Minggu, Agustus 08, 2010

Kehancuran Kaum Tsamud


Beberapa waktu lalu saya sudah posting tentang tanda-tanda kehancuran kaum 'Aad. Suatu kaum yang dimusnahkan Allah SWT karena mereka ingkar dan tidak mensyukuri nikmat yang telah mereka terima. Kaum 'Aad dibinasakan oleh Allah dengan angin topan yang sangat kencang, sehingga mengakibatkan manusia yang ingkar bergelimpangan, rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi runtuh berserakan, dan binatang-binatang ternak diterbangkan angin topan yang dahsyat itu. Akhirnya negeri itu kosong dan tandus.

Setelah negeri itu kosong dan punah akhirnya Allah SWT mengutus bangsa lain untuk menghuni negeri itu. Bangsa itu yang dalam Al-Quran disebut kaum Tsamud.


Al-Quran tidak menentukan tempat tinggal kaum Tsamud, tetapi merujuk firman Allah ini jelas menunjukkan:
“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”.(Al-Fatir: 9)

Jadi tempat tinggal mereka adalah di daerah pegunungan batu. Yang dimaksud lembah oleh ayat ini ialah lembah Al-Qura, tempat yang pernah ditinggali oleh kaum 'Aad. Di lembah inilah mereka tinggal. Kebanyakan riwayat menyebutkan bahawa desa Al-Hajr sebagai perkampungan kaum Tsamud. Mereka menyebutkan bahawa di sana ada sebuah sumur yang dinamakan sumur Tsamud. Rasulullah SAW pernah mendatangi sumur itu pada waktu perang Tabuk, dan melarang sahabat-sahabatnya meminum air dan memasuki rumah-rumah di kampung itu.

Kehidupan kaum Tsamud ini seperti kehidupan kaum 'Aad dahulu. Mereka membuat kerusakan dan kesombongan, mempamerkan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka mengira bahwa harta kekayaan yang selama ini mereka pegang dan rasakan adalah untuk selama-lamanya, kesenangan dan kebahagiaan hidup mereka akan tetap selamanya. Lalu mereka berbuat semaunya, mengikuti hawa nafsunya yang angkara murka, bahkan hingga batu-batu yang tidak berharga mereka gunakan sebagai pemujaan dan penyembahan mereka

Allah SWT mengutus Nabi Saleh AS kepada Kaum Tsamud untuk menyeru mereka beribadah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala-berhala. Seruan Nabi Saleh AS kepada mereka: “Hai kaumku, beribadahlah hanya kepada Allah semata. Jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Dia yang menciptakan kamu dari tanah, Dialah yang menjadikan kamu dapat membangun dengan menyediakan alat-alat pembangunan.
Maka wajarlah kalian harus memohon ampun kepada-Nya atas perbuatan dosa yang telah kalian lakukan, mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa, mengampuni dosa orang yang bertaubat, jika ia benar-benar beriman dan ikhlas dalam berdoa.”
Kaum Tsamud mendustakan Nabi yang diutus Allah, menolak seruannya untuk beribadah kepada Allah, bertakwa dan meng-Esakan-Nya. Padahal ia Rasul yang dapat dipercaya dan tak mengharapkan upah dalam menyampaikan ajarannya.

Kebiasaan kabilah Tsamud bergelimang dalam kemewahan material antara lain dalam masalah makanan, minuman dan tempat tinggal dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Sehingga mereka ingkar terhadap Nabinya berkata menasihati mereka: “Apakah kalian mengira Allah akan membiarkan kalian bersenang-senang dengan kenikmatan itu. Apakah kalian mengira dapat melindungi diri kalian dari azab Allah, sehingga kalian berfoya-foya sesuka hati dengan kebun-kebun, mata air, pertanian dengan buah kurmanya yang manis dan masak.

Kalian pahat bagian-bagian gunung untuk dijadikan tempat tinggal dan rumah-rumah yang nyaman menyenangkan. Kemudian kalian tidak mau mensyukuri nikmat Allah yang banyak ini. Bertakwalah kepada Allah, taatilah nasihat-nasihatku. Aku menyeru kalian kejalan Allah, janganlah kamu turutkan perbuatan-perbuatan orang yang melampaui batas. Mereka melampui batas (mempengaruhi kalian) dalam kekufuran dan kemaksiatan. Mereka membabi-buta membuat kemaksiatan di dunia, dan tidak mengetahui jalan yang benar.”

Seterusnya Nabi Saleh AS berkata kepada mereka: “Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu bangun istana-istana ditanah yang datar dan kamu pahat gunung untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melampaui batas di muka bumi membuat kerusakan”.

Kaum Tsamud tidak mau percaya terhadap nasihat-nasihat Nabi Saleh. Bahkan sebaliknya, mereka menuduh bahawa Saleh terkena sihir yang mengganggu pikirannya. Sehingga dengan pengaruh sihir itu, ia mengaku sebagai utusan Allah.

Pada suatu hari mereka (kaum Tsamud) datang menemui Nabi Saleh AS untuk minta bukti-bukti kebenaran atas kenabiannya. Mereka berkata, "Kalau engkau boleh mendatangkan bukti mukjizat (perkara-perkara luar biasa), maka engkau benar-benar seorang nabi, kalau tidak berarti engkau seorang pembohong."
Mendengar kata-kata dan pendirian mereka yang sedemikian itu, tidak ada yang dapat diperbuat oleh Nabi Saleh kepada mereka kecuali hanya berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Ya Tuhanku, kaumku telah mendustakan aku, dan hanya sebagian saja dari mereka yang beriman kepadaku, dan kali ini mereka minta mukjizat atas kenabianku. Untuk mengatasi hal yang sedemikian itu sudilah kiranya Engkau memberikan mukjizat yang dikehendaki mereka itu. Mudah-mudahan dengan mukjizat itu mereka beriman kepada seruan yang kusampaikan kepada mereka."

Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Saleh, lalu Allah SWT berfirman kepadanya: "Pergilah engkau hai Saleh untuk menemui kaummu, dan katakanlah kepada mereka agar berkumpul dilapangan dikaki gunung itu, untuk dapat melihat mukjizat yang mereka inginkan. Dari gunung itu nanti akan muncul seekor unta betina yang luar biasa cantiknya, besar dan gemuk, yang tidak pernah mereka lihat sebelum ini. Susu unta itu selalu penuh dengan air susu, walaupun setiap detik dan setiap jam air susu itu diperas.
Setiap orang dibolehkan untuk mengambil air susunya, dengan syarat unta itu harus dibiarkan dengan sebebas-bebasnya, tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Dan juga unta itu harus dibiarkan meminum air yang ada dalam sumur itu bergantian dengan penduduk. Artinya hari ini sumur itu digunakan untuk meminumkan unta itu, dan hari berikutnya digunakan untuk penduduk. Dan begitulah seterusnya. Dan sewaktu giliran unta, tak seorang pun dari penduduk itu yang dibolehkan mengambil air sumur itu. Begitu pula pada hari giliran penduduk, unta itu tidak akan meminum sedikit pun."

Setelah wahyu itu disampaikan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya, maka mereka berkumpul menunggu-nunggu unta yang dimaksudkan itu. Tidak lama kemudian dari gunung itu muncullah seekor unta yang cantik, gemuk dan penuh dengan air susu, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Saleh kepada mereka.
Unta itu terus menuju ke sumur dan meminum semua air yang ada dalam sumur. Melihat unta yang gemuk itu, semua penduduk menyediakan nampan untuk tempat susu, lalu mengambil air susu dari unta itu.

Demikianlah setiap hari unta itu mengeluarkan air susu, dan tidak henti-hentinya penduduk disitu memerasnya. Dan pada suatu hari, mereka tidak mendapatkan air sama sekali dalam sumur itu, maka sebagai gantinya mereka memeras susu unta itu.
Begitulah dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, orang yang beriman bertambah kuat imannya, sedangkan orang-orang yang ingkar bukan menjadi beriman padahal bukti-bukti dan mukjizat yang mereka minta dahulu telah mereka saksikan, bahkan mereka bertambah dengki kepada Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman.

Kaum Tsamud membunuh Unta

Untuk mewujudkan kedengkian dan iri hati yang terpendam dalam hati kaum Tsamud yang ingkar, maka mereka merencanakan untuk membunuh unta mukjizat dengan tujuan supaya orang-orang yang beriman semakin berkurang bahkan menghindar dari seruan Nabi Saleh. Karena seruan dan ajaran Saleh adalah tidak sesuai dengan ajaran nenek moyang mereka yang menyembah patung dan berhala-berhala.

Untuk membunuh unta mukjizat Nabi Saleh itu, para pemimpin kaum Tsamud yang ingkar memberikan motivasi kepada laki-laki untuk membunuh unta itu. Motivasi itu adalah dengan menawarkan perempuan-perempuan cantik. Perempuan-perempuan cantik itu akan diserahkan kepada laki-laki yang mau membunuh unta tersebut.
Akhirnya seorang perempuan cantik yang bernama Shaduq binti Mahya akan menyerahkan kehormatannya dengan sepuas-puasnya kepada seorang laki-laki yang bernama Masdak Ibnu Hajar, dengan syarat pemuda itu dapat membunuh unta tersebut. Dan juga seorang perempuan tua yang derhaka sanggup menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada seorang lelaki yang bernama Qudar Ibnu Salif.

Kedua-dua pemuda itu yang sudah tergoda dengan gadis-gadis cantik, berangkat menuju ke tempat unta itu berada. Dengan diam-diam kedua pemuda itu mendekati unta itu dekat sumur dan menusuknya dengan pedang yang sangat tajam, hingga akhirnya terburailah susu unta itu, dan tidak lama kemudian unta itu pun mati. Kedua pemuda itu dengan perasaan puas dan gembira menemui pemimpin-pemimpin kaumnya atas kematian unta mukjizat tersebut sambil menagih janji gadis-gadis cantik yang akan mereka nikmati.

Mereka mendustakan firman Allah melalui Nabi Saleh yang telah memberi ancaman kepada siapa saja yang berani membunuh unta itu, tapi akhirnya mereka membunuh unta itu dengan mendustakan mukjizat yang telah diperlihatkan kepada mereka.
Kemudian mereka menemui Nabi Saleh dan berkata: "Hai Saleh, datangkanlah siksa yang telah engkau janjikan itu, seandainya engkau benar-benar utusan Allah. Buktinya unta yang merupakan mukjizat itu sudah kami bunuh, dan mana janji bahwa akan didatangkan azab itu."

Nabi Saleh berkata: "Kamu benar-benar telah berbuat dosa. Sekarang kamu boleh bersenang-senang dan bergembira tiga hari saja atas kematian unta itu. Sesudah tiga hari yang dijanjikan Tuhan akan datang, dan bukanlah ini perjanjian yang bohong."

Dalam waktu tiga hari masih diberikan kesempatan kepada mereka oleh Nabi Saleh dengan harapan mudah-mudahan mereka sadar dan bertaubat, beriman kepada Allah dan utusan-Nya. Tetapi oleh kaum yang durhaka dan celaka itu, dianggap sebagai tanda kelemahan.

Belum lagi tiga hari, mereka datang lagi kepada Nabi Saleh memaki-maki lagi dengan bertanya: "Percepatlah datangnya azab yang engkau janjikan itu".
Dan banyak lagi cara-cara mereka dalam menyakiti dan mendustakan Nabi Saleh. Nabi Saleh hanya berkata: "Wahai kaumku, kenapa kamu minta segera datangnya siksa, bukan kebaikan? Kenapa kamu tidak minta ampun kepada Allah, mudah-mudahan kamu diberinya pengampunan?"

Sehari sebelum janji itu habis, karena mereka merasa ragu dan takut akan janji Allah itu, maka mereka mengadakan pertemuan rahasia untuk membunuh Nabi Saleh pada malam itu juga. Karena menurut sangkaan mereka bahwa dengan terbunuhnya Nabi Saleh, azab itu tidak akan datang. Namun Allah melindungi hamba-Nya yang benar, Nabi Saleh dijauhkan dari pembunuhan pada malam itu juga.

Pada keesokan harinya tepat sekali apa yang dijanjikan oleh Nabi Saleh itu, maka azab yang dijanjikan Tuhan itu diturunkan yang berupa suara petir yang sangat dahsyat. Gemuruh petir yang sangat kuat itu dapat menyebabkan suara yang mengguntur dan dapat menghancurkan rumah dan bangunan-bangunan mereka sebagai tempat tinggal, bukit-bukit yang dipergunakan sebagai benteng, harta kekayaan mereka porak-peranda disambar petir dan tiupan angin. Hanya Nabi Sall\eh dan pengikutnya yang beriman terselamat dari azab tersebut.
Kehancuran kaum Tsamud adalah karena sambaran petir yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.

“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”.
(Al-Haqqah: 5)
Yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara menggelegar dan merusakkan indera pendengaran.
Petir itu menimbulkan goncangan yang hebat, bagaikan terjadinya gempa yang memporak-perandakan bumi.


Sumber : Qisasul Anbiya' - Kisah Para Nabi & Rasul
Pengarang: Ibnu Katshir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...