Minggu, Agustus 08, 2010

"ALLAH MENCINTAI ORANG SABAR"


Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan
kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari
kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah
dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul
Qayyim rahimahullah mengatakan,"Kedudukan sabar
dalam iman laksana kepala bag! seluruh tubuh. Apabila
kepala sudah terpotong maka tidak ada lag! kehidupan
di dalam tubuh. "^

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah
berkata, "Sabar adalah meneguhkan diri dalam
menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari
perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari
perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir
Allah. ..."^

Macam-macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah
berkata, "Sabar itu terbagi menjadi tiga macam :



^ Al Fawa'id, hal. 95.

' Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24



1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada
Allah

2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang
diharamkan Allah

3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah
yang dialaminya, berupa berbagai hal yang
menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar
kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari
orang lain^

Sebab meraih kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa'di
rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk
menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau
menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih
itu semua adalah iman dan amal shalih.



Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan
bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah
kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan
berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal
ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta'ala,



Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24



"Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat"
(QS. Al Baqarah [2] : 45).

Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal
sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian.
Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih
kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta'ala berfirman
kepada penduduk surga, "Keselamatan atas kalian berkat
kesabaran kalian" (QS. Ar Ra'd [13] : 24).

Allah juga berfirman, "Mereka itulah orang-orang yang
dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga)
dengan sebab kesabaran mereka" (QS. Al Furqaan [25] :
75).

Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai
sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu
kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman
Allah ta'ala, "Dan Kami menjadikan di antara mereka
(Bani Isra'il) para pemimpin yang memberikan petunjuk
dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan
meyakini ayat-ayat Kami" (QS. As Sajdah [32] : 24)."

Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375

SABAR DALAM KETAATAN

Sabar dalam menuntut ilmu

Syaikh Nu'man mengatakan,"Betapa banyak gangguan
yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha
menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan
rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan
tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya
menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-
pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan
serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.



Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang
pernah mengatakan,"llmu itu tidak akan didapatkan
dengan banyak mengistirahatkan badan" sebagaimana
tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang
seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang
yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang
hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya
menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali



orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran
dari Allah."=

Sabar dalam mengamalkan ilmu

Syaikh Nu'man mengatakan,"Dan orang yang ingin
beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam
menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila
dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari'at
yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida'
wal ahwaa' yang menghalangi di hadapannya, demikian
pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali
ajaran warisan nenek moyang mereka.

Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya,
dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan
terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang
ini berada di zaman dimana orang yang berpegang
teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang
menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai
penolong bagi kita, Dia lah sebaik-baik penolong"^



' Taisirul wushul, hal. 12-13
*" Taisirul wushul, hal. 13



Sabar dalam berdakwah

Syaikh Nu'man mengatakan,"Begitu pula orang yang
berdakwah mengajak kepada agama Allah harus
bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena
sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah
menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin
Naufal mengatakan kepada Nab! kita shallallahu 'alaihi
wa sallam,"Tidaklah ada seorang pun yang datang
dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa
melainkan pasti akan disakiti orang".



Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya
para da'i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya,
begitu pula para pengikut dan orang-orang yang
mengenyangkan perut mereka dengan cara itu.
Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As
Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid'ah dan
hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan
dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya
para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta
orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok
mereka.



Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi
dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari
kesyirikan, bid'ah dan kemaksiatan yang selama ini
mereka tekuni"'

Sabar dan kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah
berkata, "Allah ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya,"Dan
sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka
mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap
mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah
pertolongan Kami" (QS. Al An'aam [6] : 34).



Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin
dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah
pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat
seseorang (da'i) masih hidup saja sehingga dia bisa
menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi
yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat
sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan
hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya
serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu



^ Taisiml wushul, hal. 13-14



termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da'i ini
meskipun dia sudah mati.

Maka wajib bagi para da'i untuk bersabar dalam
melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam
menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam
menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya
dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi
rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya.
Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu
'alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan
perbuatan sekaligus.



Allah ta'ala berfirman yang artinya,"Demikianlah,
tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum
mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, 'Dia
adalah tukang sihir atau orang gila'." (QS. Adz Dzariyaat
[51] : 52). Begitu juga Allah 'azza wa jalla berfirman,
"Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada
musuh yang berasal dari kalangan orang-orang
pendosa" (QS. Al Furqaan [25] : 31). Namun, hendaknya



para da'i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu
semua..."*

Sabar di atas Islam

Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu
'anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam
meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar
oleh majikannya di atas padang pasir yang panas^
Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan
yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya.
Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji
sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di
jalan Allah^°.

Lihatlah keteguhan Sa'ad bin Abi Waqqash
radhiyallahu'anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk
meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah
mogok makan dan minum bahkan tidak mau
mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas
Sa'ad bin Abi Waqqash mengatakan, "Wahai Ibu, demi



' Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24

' Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122

^° Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123



10



Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian
satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan
meninggalkan agama ini..." " Inilah akidah, inilah
kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh
menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan
topan kehidupan.

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang
menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan
harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta,
kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan
makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan
yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama
pembela dakwah tauhid di masa silam.

Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang
bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada
yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang
sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali
itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan
mereka.



Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133



11



Ingatlah firman Allah ta'ala yang artinya,"Dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai
seorang muslim." (QS. AM 'Imran [3] : 102).

Ingatlah juga janji Allah yang artinya,"Barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan
keluar dan Allah akan berikan rezki kepadanya dari jalan
yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath Thalaq [65] : 2-
3).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya
datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.
Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keuar. Bersama
kesusahan pasti akan ada kemudahan." (HR. Abdu bin
Humaid di dalam Musnadnya [636]^^ dan Al Haakim
dalam Mustadrak 'ala Shahihain, 111/624'').



^- Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148.

" Syarh Arba'in Ibnu 'Utsaimin, hal. 200.



12



SABAR MENJAUHI MAKSIAT

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali
mengatakan/'Bersabar menahan diri dari kemaksiatan
kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi
kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan
akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan
tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena
disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu
dikabarkan oleh Allah 'azza wa jalla di dalam muhkam Al
Qur'an.

Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke
dalam lautan, adapula yang binasa karena disambar
petir, adapula yang dimusnahkan dengan suara yang
mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang
dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada
juga di antara mereka yang dirubah bentuk fisiknya
(dikutuk)."

Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, "Syaikh
memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, "Maka
masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan
dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami



13



timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara
mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur,
dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam
bumi, dan di antara mereka ada yang kami
tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak
menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Al 'Ankabuut [29] :
40).

"Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab
saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta'aala.
Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh
didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan
kejahatan yang sangat mungkaryang akan menimbulkan
kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya
siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam
kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari
perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah
mendekatinya.

Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di
dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah
dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta
ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan



14



hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya
dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana
difirmankan Allah 'azza wa jalla,"Sesungguhnya
kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-
kejelekan" (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana
disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Dan
ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu
akan menghapuskannya" (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al
Albani dalam MisykatuI Mashaabih 5043)..."'"



' Thariqul wushul, hal. 15-17



15



SABAR MENERIMA TAKDIR

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali
mengatakan,"Macam ketiga dari macam-macam
kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan
keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada
hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakanpun
di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian
atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya.
Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai
musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan
nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan
takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam
semesta..."'^

Sabar dan Tauhid

Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala membuat sebuah
bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul,"Bab
Minal iman billah, ash-shabru 'ala aqdarillah" (Bab



^' Thariqul wushul, hal. 15-17



16



Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk
cabang keimanan kepada Allah)

Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alusy Syaikh
hafizhahullahu ta'ala mengatakan dalam penjelasannya
tentang bab yang sangat berfaedah ini,"Sabar tergolong
perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam
agama). la termasuk salah satu bagian ibadah yang
sangat mulia. la menempati relung-relung hati, gerak-
gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan
hakekat penghambaan yang sejati tidak akan terrealisasi
tanpa kesabaran.

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari'at
(untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan
syari'at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa
juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang
ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau
bersabar ketika menghadapinya.

Hakekat penghambaan adalah tunduk melaksanakan
perintah syari'at serta menjauhi larangan syari'at dan
bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang
dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa 'ala



17



untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian
ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui
sarana keputusan takdir.

Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama
adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla
wa 'ala kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam di
dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari 'lyaadh
bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah bersabda "Allah ta'ala berfirman
"Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji
dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu"."

Maka hakekat pengutusan Nabi 'alaihish shalaatu was
salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian
jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya.
Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul
iaiah dengan bentuk perintah dan larangan.

Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja
dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan
berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu
pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang
menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran.



18



Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan,
"Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat
taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar
tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan"

Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup
bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun
membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah
merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka
menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari
kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang
harus ditunaikan oleh hamba, sehingga la pun bersabar
menanggung ketentuan takdir Allah.

Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang
banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka
mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah.
Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk
menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib
dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa
menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin
memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka
menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan
hukumnya juga wajib.



19



Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab
mengatakan, "Qutila fulan shabran" (artinya si polan
dibunuh dalam keadaan "shabr") yaitu tatkala dia berada
dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa
ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti
makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar'i.

la disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung
penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan
hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota
badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam
bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain
dan semacamnya. Maka menurut istilah syari'at sabar
artinya : Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati
dari marah dan menahan anggota badan dari
menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek
sesuatu dan tindakan lain semacamnya.

Imam Ahmad rahimahullah berkata,"Di dalam Al Qur'an
kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar
adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala
bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran
dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran
untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala



20



tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan
banyak sekali bagian keimanan"

Perkataan beliau "Bab Minal imaan, ash shabru 'ala
aqdaarillah" artinya : salah satu ciri karakteristik iman
kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi
takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-
cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-
cabang.

Maka dengan perkataan "Minal imaan ash shabru" beliau
ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk
salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan
penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi
mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran.
Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi
dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah
cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan
sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir
Allah yang terasa menyakitkan"^^



'AtTamhiid,hal.389-391



21



Hukum merasa ridha terhadap musibah

Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahu ta'ala
menjelaskan, "Hukum merasa ridha dengan adanya
musibah adalah mustahab (sunnah), bukan wajib. Oleh
karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan
antara ridha dengan sabar. Sedangkan kesimpulan yang
pas untuk itu adalah sebagai berikut. Bersabar
menghadapi musibah hukumnya wajib, dia adalah salah
satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal itu
dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan
sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan
takdir Allah.

Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang
berlainan :

Sudut pandang pertama : terarah kepada perbuatan
Allah jalla wa 'ala. Seorang hamba merasa ridha terhadap
perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala
sesuatu. Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan
Allah. Dia merasa puas dengan hikmah dan
kebijaksanaan Allah. Dia merasa ridha terhadap
pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa



22



'ala. Rasa ridha terhadap perbuatan Allah in! termasuk
salah satu kewajiban yang harus ditunaikan.
Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan
menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada).

Sudut pandang kedua : terarah kepada kejadian yang
diputuskan, yaitu terhadap musibah itu sendiri. Maka
hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab.
Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan
sakit yang dideritanya. Bukan kewajiban atas hamba
untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya.
Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan
sebab kehilangan hartanya. Namun hal ini hukumnya
mustahab (disunnahkan).

Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridha yang
hukumnya wajib) Alqamah mengatakan,"Ayat ini
berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah
dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi
Allah maka diapun merasa ridha" yakni merasa puas
terhadap ketetapan Allah "dan ia bersikap pasrah".
Karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi



23



(perbuatan) Allah jalla jalaaluhu. Inilah salah satu ciri
keimanan"^'

Sabar dan Syukur

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu 'anhu,
beliau mengatakan,"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah bersabda, "Sungguh menakjubkan urusan
orang yang beriman, semua urusannya adalah baik.
Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang
mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka
bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia
tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun
baik baginya." (HR. Muslim)

Syaikh Al 'Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam
menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan
kesulitan terbagi menjadi dua, yaitu kaum beriman dan
kaum yang tidak beriman.

Adapun orang yang beriman bagaimanapun kondisinya
selalu baik baginya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka
dia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan



' At Tamhhd, hal. 392-393



24



keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan
kesabarannya itu. Dengan demikian dia memperoleh
pahala orang-orang yang sabar. Maka in! balk baginya.

Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat
diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu
dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Karena
syukur bukan saja mencakup ucapan syukur di mulut
saja, akan tetapi harus dilengkapi dengan melaksanakan
berbagai ketaatan kepada Allah. Sehingga orang yang
beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami
kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang
dan nikmat diniyah dengan bersyukur. Sehingga inipun
baik bagi dirinya.

Adapun orang kafir, mereka berada dalam keadaan yang
buruk sekali, wal 'iyaadzu billaah. Apabila tertimpa
kesulitan mereka tidak mau bersabar, bahkan tidak mau
terima, memprotes takdir, mendo'akan kebinasaan,
mencela masa dan caci maki lainnya.

Sedangkan apabila mendapatkan kesenangan dia tidak
bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan yang dialami
oleh orang-orang kafir di dunia ini kelak di akhirat akan



25



berubah menjadi siksaan. Karena orang kafir itu tidaklah
menyantap makanan atau menikmati minuman kecuali
dia pasti mendapatkan dosa karenanya. Meskipun hal itu
bagi orang mukmin tidak dinilai dosa, akan tetapi lain
halnya bagi orang kafir.

Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah ta'ala yang
artinya,"Katakanlah Siapakah yang mengharamkan

perhiasan Allah dan rezki yang baik-baik yang
dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Katakanlah :
itu semua adalah untuk orang-orang yang beriman di
dalam kehidupan dunia yang akan diperuntukkan untuk
mereka saja pada hari kiamat" (QS.AI A'raaf [7] : 32).

Sehingga semua rezki tersebut diperuntukkan bagi kaum
beriman saja pada hari kiamat nanti. Adapun orang-
orang yang tidak beriman maka nikmat itu bukan
menjadi hak mereka. Mereka memakannya padahal itu
haram bagi mereka dan pada hari kiamat nanti mereka
akan disiksa karenanya. Sehingga bagi orang kafir
kesenangan maupun kesulitan adalah sama-sama
buruknya, wal 'iyaadzu billaah."



'' Lihat Syarh Riyadhush Shalihm, 1/107-108



26



Hikmah di balik musibah

Dari Anas, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda, "Apabila Allah menginginkan
kebaikan bag! hamba-Nya, maka Allah segerakan
hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah
menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah
tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di
saat hari kiamat" (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan
nomor 2396 di dalam Az Zuhud. Bab tentang kesabaran
menghadapi musibah. Beliau mengatakan ; hadits ini
hasan gharib. la juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam
Al Mustadrak (1/349, 4/376 dan 377). la tercantum
dalam Ash Shahihah karya Al Albani dengan nomor
1220)

Syaikhul Islam mengatakan, "Datangnya musibah-
musibah itu adalah nikmat. Karena ia menjadi sebab
dihapuskannya dosa-dosa. la juga menuntut kesabaran
sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala.
Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan
merendahkan diri di hadapan Allah ta'ala serta
memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama
makhluk, dan berbagai maslahat agung lainnya yang



27



muncul karenanya. Musibah itu sendiri dijadikan oleh
Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan.
Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka
seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat
dan nikmat bagi keseluruhan makhluk, kecuali apabila
musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah
menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar
daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa.
Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan
baginya, bila ditilik dari sudut pandang musibah yang
menimpa agamanya."

"Sesungguhnya ada diantara orang-orang yang apabila
mendapat ujian dengan kemiskinan, sakit atau terluka
justru menyebabkan munculnya sikap munafiq dan
protes dalam dirinya, atau bahkan penyakit hati,
kekufuran yang jelas, meninggalkan sebagian kewajiban
yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan
berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat
semakin membahayakan agamanya. Maka bagi orang
semacam ini kesehatan lebih baik baginya. Hal ini bila
ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia
mengalami musibah, bukan dari sisi musibahnya itu
sendiri. Sebagaimana halnya orang yang dengan



28



musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk
melaksanakan ketaatan, maka musibah yang menimpa
orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah.
Musibah itu sendiri terjadi dengan perbuatan Rabb 'azza
wa jalla sekaligus sebagai rahmat untuk manusia, dan
Allah ta'ala maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut.
Barangsiapa yang diuji dengan suatu musibah lantas
diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah
nikmat bagi agamanya. Setelah dosanya terhapus
karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih
sayang dari Allah).

Dan apabila dia memuji Rabbnya atas musibah yang
menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-
Nya. "Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian
(shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan
rahmat" (QS. Al Baqarah [2] : 156) Ampunan dari Allah
atas dosa-dosanya juga akan didapatkan, begitu pula
derajatnya pun akan terangkat. Barangsiapa yang
merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya
dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut" Selesai
perkataan Syaikhul Islam, dengan ringkas^^



' Lihat Fathul Majiid, hal. 353-354



29



Do'a apabila tertimpa musibah

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, Allahumma'jurnii
fii mushiibatii wa ahklif Mi khairan minhaa

Artinya : Sesungguhnya kita adalah milik Allah. Dan kita
pasti akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah
ganjaran pahala atas musibah hamba. Dan gantikanlah ia
dengan sesuatu yang lebih baik darinya. (HR. Muslim,
2/632. lihat Hishnul Muslim, hal. 96-97)

Pertanyaan : Apabila ada seseorang yang terkena suatu
penyakit atau tertimpa suatu bencana yang berakibat
buruk bagi diri atau hartanya, lalu bagaimanakah cara
untuk mengetahui bahwa bencana itu merupakan ujian
ataukah kemurkaan dari sisi Allah ?

Syaikh Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
menjawab, "Allah 'azza wa jalla menguji hamba-hamba-
Nya dengan bentuk kesenangan dan kesulitan, dengan
kesempitan dan kelapangan. Terkadang dengan hal itu
Allah menguji mereka supaya bisa menaikkan derajat
mereka serta meninggikan sebutan mereka dan juga
demi melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Yang



30



demikian itu sebagaimana yang dialami oleh para Nabi
dan Rasul 'alaihimush shalatu was salaam, dan juga para
hamba Allah yang shalih. Sebagaimana sudah
disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi,
kemudian diikuti oleh orang-orang lain yang berada
dibawah tingkatan mereka."

Dan terkadang Allah juga menimpakan hal itu
disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat dan
dosa-dosa (yang mereka lakukan). Sehingga dengan
demikian maka bencana itu merupakan hukuman yang
disegerakan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah
Yang Mahasuci yang artinya, "Dan musibah apapun yang
menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan
tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak
kesalahan orang." (QS. Asy Syura [42] : 30).

Adapun kondisi sebagian besar umat manusia yang ada
iaiah fenomena taqshir/meremehkan dan tidak
menunaikan kewajiban yang telah dibebankan. Oleh
karena itu musibah yang menimpa dirinya maka itu
sesungguhnya timbul dikarenakan dosa-dosa yang



31



diperbuatnya serta kekurangannya sendiri dalam
menjalankan perintah Allah.

Sedangkan apabila yang mengalami musibah adalah
termasuk golongan hamba Allah yang shalih, entah
berupa penyakit tertentu ataupun musibah yang lainnya,
maka sesungguhnya hal ini termasuk kategori ujian yang
diberikan kepada kalangan para Nabi dan Rasul dalam
rangka mengangkat derajat serta membesarkan balasan
pahalanya. Dan juga dia bisa menjadi contoh untuk
orang lain dalam hal kesabaran dan keyakinannya untuk
berharap pahala. Sehingga hasil yang ingin diraih
dengan sebab terjadinya musibah iaIah terangkatnya
derajat, peningkatan pahala, sebagaimana halnya
musibah yang ditetapkan oleh Allah menimpa para Nabi
dan sebagian orang yang baik/shalih.

Dan bisa juga hal itu terjadi demi menghapuskan dosa
kesalahan-kesalahan, sebagaimana tercantum dalam
firman Allah ta'ala yang artinya, "Barangsiapa yang
melakukan kejelekan pasti akan dibalas." (QS. An Nisaa'
[4] : 123).



32



Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda/Tidaklah ada
sebuah kesusahan, kekalutan, keletihan, penyakit,
kesedihan maupun gangguan yang menimpa seorang
mukmin melainkan Allah past! menghapuskan sebagian
dosa kesalahan-kesalahannnya, bahkan sampai duri
yang menusuk bagian tubuhnya." Dan sabda beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam,"Barangisapa yang
diinginkan baik oleh Allah maka pasti Dia timpakan
musibah kepadanya.".

Namun terkadang bisajuga hal itu merupakan hukuman
yang disegerakan disebabkan perbuatan-perbuatan
maksiat yang dilakukan dan kelambatan diri dalam
bertaubat. Hal itu sebagaimana diceritakan di dalam
sebuah hadits dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nabi bersabda/'Apabila Allah menghendaki kebaikan
bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukuman
baginya di alam dunia. Sedangkan apabila Allah
menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah
menahan hukuman atas dosa itu hingga terbayarkan
kelak pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi, dinilainya
hasan).'"



^° Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah juz 4, diterjemahkan
dari website beliau



33



Marah saat tertimpa musibah ?

Pertanyaan : Apa hukumnya orang yang marah tatkala
tertimpa musibah ?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah
menjawab, "Orang ketika menghadapi musibah terbagi
dalam empat tingkatan :

Tingkatan Pertama : Marah.

Tingkatan ini meliputi beberapa macam keadaan :
Kondisi pertama; ia menyimpan perasaan marah di
dalam hati kepada Allah. Sehingga dia pun menjadi
marah terhadap apa yang sudah diputuskan Allah. Hal ini
adalah haram. Bahkan terkadang bisa menjerumuskan
pelakunya ke dalam kekafiran. Allah ta'ala berfirman
yang artinya, "Di antara manusia ada orang yang
menyembah Allah di pinggiran. Apabila dia tertimpa
kebaikan diapun merasa tenang. Dan apabila dia
tertimpa ujian maka diapun berbalik ke belakang, hingga
rugilah dia dunia dan akhirat." (QS. Al Hajj [22]: 11).



34



Kondisi kedua; kemarahannya diekspresikan dengan
ucapan. Seperti dengan mendo'akan kecelakaan dan
kebinasaan atau ucapan semacamnya, ini juga haram.

Kondisi lterekspresikan dengan tindakan anggota badan. Seperti
dengan menampar-nampar pipi, merobek-robek kain
pakaian, mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya.
Perbuatan ini semua haram hukumnya dan meniadakan
sifat sabar yang wajib ada.

Tingl
Hal ini sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair
dalam syairnya,

Sabar itu memang seperti namanya

Pahit kalau baru dirasa

Tapi buahnyayang ditunggu-tunggu
Jauh lebih manis daripada madu

Dia melihat bahwa musibah ini adalah sesuatu yang
sangat berat akan tetapi dia tetap bisa tabah dalam
menanggungnya. Dia merasa tidak senang atas
kejadiannya. Namun imannya masih bisa menjaganya



35



untuk tidak marah. Sehingga terjadi atau tidaknya
musibah itu masih terasa berbeda baginya. Dan hal ini
adalah tingkatan yang wajib. Sebab Allah ta'ala telah
memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman yang
artinya, "Bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah
bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al AInfaal [8] :
46).

Tingl
Yaitu seseorang bisa merasa ridha dengan musibah yang
menimpanya. Sehingga ada dan tidaknya musibah adalah
sama saja baginya. Dia tidak merasakannya sebagai
sebuah beban yang sangat berat. Ini adalah tingkatan
yang sangat dianjurkan/mustahab, dan bukan hal yang
wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan antara
tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya cukup jelas.
Yaitu; karena dalam tingkatan ini ada tidaknya musibah
itu terrasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya.
Adapun dalam tingkatan sebelumnya terjadinya musibah
itu masih dirasakan sebagai sesuatu yang sukar baginya,
namun dia masih tetap bersabar.



36



Tingkatan Keempat : Bersyukur

Inilah tingkatan yang tertinggi. Yaitu dengan justru
bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya.
Dia sadar bahwa pada hakikatnya musibah adalah faktor
penyebab terhapusnya dosa-dosanya, bahkan terkadang
bisa menjadi sumber penambahan amal kebaikannya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tiada
sebuah musibahpun yang menimpa seorang muslim,
kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab
musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya."
(HR. Bukhari (5640) dan Muslim (2572)). ''



'^ Diterjemahkan dengan penyesuaian redaksional dari Fatawa
Arkanil Islam, hal. 126-127



37



BALASAN BAGI ORANG YANG SABAR

Allah ta'ala berfirman yang artinya,"Sungguh Kami akan
menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta
kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka
berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah
mereka mengatakan,"Sesungguhnya kami ini berasal dari
Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya". Mereka
itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan
shalawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah
orang-orang yang memperoleh hidayah" (QS. Al Baqarah
[2] : 155-157).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah
berkata di dalam kitab tafsirnya, "Ayat ini menunjukkan
bahwa barangsiapa yang tidak bersabar maka dia berhak
menerima lawan darinya, berupa celaan dari Allah,
siksaan, kesesatan serta kerugian. Betapa jauhnya
perbedaan antara kedua golongan ini. Betapa kecilnya
keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar
bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang



38



harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan
tidak bersabar..."^^

Allah ta'ala juga berfirman yang artinya,"Sesungguhnya
balasan pahala bag! orang-orang yang sabar adalah
tidak terbatas" (QS. Az Zumar [39] : 10).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah
berkata di dalam kitab tafsirnya,"Ayat ini berlaku umum
untuk semua jenis kesabaran. Sabar dalam menghadapi
takdir Allah yang terasa menyakitkan, yaitu hamba tidak
merasa marah karenanya. Sabar dari kemaksiatan
kepada-Nya, yaitu dengan cara tidak berkubang
didalamnya. Bersabar dalam melaksanakan ketaatan
kepada-Nya, sehingga diapun merasa lapang dalam
melakukannya.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar
pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa
batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran
tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali
disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat
sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah, dan



■ Taisir Karimir Rahman, hal. 76



39



menunjukkan pula bahwa Allahlah penolong segala
urusan"^^

Surga bagi orang yang sabar

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "(yaitu) Syurga 'Adn
yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-
isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat
masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
(sambil mengucapkan) "Salamun 'alaikum bima

shabartum" (Keselamatan atas kalian sebagai balasan
atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu." (QS. Ar Ra'd : 23-24).

Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi
wa shahbihi wa sallam.

Selesai disusun ulang, Kamis 8/1/1428
Abu Mushlih Al Jukjakarti

Semoga Allah mengampuninya



' Taisir Karimir Rahman, hal. 721

Disusun oleh
Abu Mushlih Al Jukjakarti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...