Minggu, Agustus 08, 2010

Ambil Jalan Tengah!


Wasiat Habib Ali bin Hasan Alatas

Kalam-kalam seorang “arif billah” selalu menyejukkan dan mampu mengobati hati. Apalagi kalau kalam itu berasal dari seorang “quthb”, yaitu wali yang memperoleh tempat istimewa disisi-Nya. Tak ayal lagi, kalamnya ibarat cahaya yang menerangi lorong hati yang tergelap sekalipun. Berikut salah satu wasiat seorang “quthb” yang meninggal pada tahun 1172 Hijriyah di Hadramaut, Yaman, Habib Ali bin Hasan Alatas,

‘Sesungguhnya dunia ini bersifat fana dan kita hidup di dalamnya tidak untuk selamanya. Coba renungkan semua perbuatan yang kita kerjakan kemarin, pagi tadi atau bahkan yang barusan, yang baik dan yang buruk. Bukankah kenikmatan perbuatan tersebut telah berlalu, dan yang pasti akibat dari perbuatan tersebut akan kita tanggung. Apabila baik, kita akan mendapatkan pahala. Namun apabila jelek, kita pasti menghadapi hisab dan siksa.

Hindarilah empat perbuatan yang merupakan perilaku syetan.

Pertama, riya’, yaitu amal yang dikerjakan dengan mengharapkan sesuatu dari manusia. Perbuatan ini dikategorikan syirik sesuai kesepakatan ulama. Alangkah bodohnya diri kita apabila menyembah seseorang yang pada hakikatnya tidak dapat memberikan manfaat kepada kita. Dan seumpama perbuatan itu diketahui olehnya, maka harga diri kita jatuh di matanya.

Kedua, sombong. Sikap ini dapat kita hilangkan dalam diri kita dengan selalu koreksi diri dan menyadari bahwa kita diciptakan dari setetes air yang menjijikkan. Kita hidup dengan membawa kotoran-kotoran di dalam perut kita dan pada akhirnya kita akan menjadi bangkai yang berbau tak sedap.

Ketiga dan keempat adalah ujub (bangga diri) dan hasud (dengki). Keduanya merupakan karakteristik dasar seorang iblis dan pengikut-pengikutnya. Ketika ia mengetahui penciptaan Adam AS dari tanah ia merasa bangga diri seraya berkata, “Aku lebih baik dari dia.” Kemudian setelah ia mengetahui keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada Adam as, ia menjadi dengki dan berakhir dengan diusirnya ia dari rahmat Allah SWT. Sedangkan Adam as menjadi salah satu makhluk pilihan-Nya. Maka, janganlah kalian dengki kepada orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah. Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan kepada orang yang ia kehendaki.

Apabila kalian melihat seseorang mendapatkan “futuh” (dibuka jalannya oleh Allah) dalam ilmu, ibadah, ma’rifat, kedudukan atau harta, maka sebagai insan yang beriman, kalian hendaknya turut bahagia atas keutamaan Allah yang dilimpahkan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda,-
َلايُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا ُيِحبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya seperti ia mencintai apa yang ada pada dirinya.”

Ketahuilah, sesungguhnya rasa benci kalian atas nikmat yang dikaruniakan kepada saudara kalian menunjukkan itikad jelek kalian yang seolah-olah ingin menghalang-halangi nikmat Allah kepadanya. Dan itu sangat mustahil.

Apabila diri kalian mendengar atau mengetahui keutamaan salah satu saudara kalian, maka sebarkan keutamaannya kepada khalayak dan pujilah ia sesuai kapasitasnya walaupun sebenarnya ia adalah orang yang selama ini memusuhi kalian. Sesungguhnya pujian seseorang kepada saudaranya adalah pertanda bahwa ia adalah orang yang berakal sempurna. Namun apabila kalian mengetahui kekurangan saudara kalian, maka jangan pernah menyebarkannya kepada siapapun. Karena salah satu dari sifat ketuhanan adalah memperlihatkan hal-hal yang indah dan menutupi hal-hal yang buruk.

Jagalah rahasia-rahasia kalian dengan baik terutama rahasia yang akan membahayakan jiwa atau harta kalian jika diketahui orang. Karena sesungguhnya orang-orang awam cenderung suka menyebarkan suatu rahasia, terutama para wanita. Dan diantara rahasia-rahasia yang perlu untuk senantiasa disimpan adalah kefakiran, permusuhan, perbuatan taat dan safar (perjalanan jauh) kecuali jika darurat.

Janganlah pernah berprasangka buruk kepada siapa pun, atau curiga tanpa dasar, karena perbuatan itu termasuk dosa besar. Allah berfirman,-

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah SAW bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena itu adalah ucapan yang paling dusta.” Salah seorang ulama dari golongan Bani Alawi pernah berkata, “Sesungguhnya karakter yang buruk akan melahirkan prasangka-prasangka yang buruk pula.”

Namun sikap waspada dan hati-hati terhadap orang yang gerak-geriknya mencurigakan diperbolehkan selama hal itu tidak keterlaluan. Karena para salaf bersikap demikian. Amirul Mukminin, Umar bin Alkhattab berkata, “Aku bukan termasuk golongan penipu, namun aku takkan tertipu oleh seorang penipu.”

Janganlah menyimpan dendam kesumat atau sikap permusuhan kepada siapapun dalam hati. Bermurahlah dalam memberikan maaf. Imam Syafii ra berkata, “Barang siapa dibuat marah oleh seseorang namun tidak marah, berarti ia adalah himar (keledai). Dan barang siapa dimintai maaf namun tidak memaafkan, berarti ia adalah syetan.” Beliau juga mengungkapkan, “Terlalu bebas dalam bergaul dengan masyarakat akan mendatangkan pengaruh yang jelek, namun terlalu menutup diri dari masyarakat akan memunculkan kebencian dan sikap permusuhan dari mereka. Maka, ambillah jalan tengah!”

Jagalah mulut kalian dari perkataan bohong, karena Allah dan Rasul-Nya melaknat orang yang suka berbohong. Seorang pembohong takkan pernah dipercaya orang, ia dipandang hina di tengah-tengah masyarakat, semua perkataannya dianggap dusta. Maka, hindarilah segala macam bentuk kebohongan. Jangan pula menyampaikan kabar-kabar yang datang dari seorang pembohong. Karena kebohongan itu akan dianggap berasal dari kalian dan kalian yang akan terkena getahnya.

Maka, tidak banyak bicara adalah solusi terbaik untuk keselamatan diri. Nabi Isa as bersabda, “Jika bicara itu ibarat perak, maka diam itu ibarat emas.” Abubakar Asshiddiq ra, sahabat terbaik nabi, selalu meletakkan kerikil di mulutnya agar tidak banyak bicara. Ia mengungkapkan, “Ini (seraya menunjuk mulutnya) yang menyampaikanku ke berbagai tempat (bahaya).” Suatu ketika seorang sahabat berkata kepada nabi SAW, “Si Fulan telah meninggal dalam keadaan syahid.” “bagaimana kamu tahu!” jawab Nabi. “Barangkali ia pernah mengatakan sesuatu yang tak perlu, atau bakhil terhadap harta yang tak bisa membuatnya kaya.” Lanjut beliau.

Walhasil, inti dari keseluruhan adab bermasyarakat yang harus kalian pegang teguh adalah meninggalkan perbuatan yang pasti kalian benci apabila dilakukan orang lain terhadap kalian dan mengerjakan perbuatan yang pasti kalian senangi apabila dilakukan orang lain terhadap kalian. Sibukkan diri kalian dengan mengoreksi kekurangan-kekurangan diri sendiri daripada mengoreksi kesalahan orang lain.

Segeralah bertobat kepada Allah atas segala dosa-dosamu. Berprasangka baiklah kepada Allah disertai harapan kalian akan dikaruniai akhir yang baik (husnul khatimah). Apabila kalian melihat seseorang berbuat maksiat atau menghadiri majelis yang tidak baik, maka jangan mencelanya, karena kalian tak pernah tahu apakah suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang soleh sedang kalian tidak, atau ia akan mati dalam keadaan baik, sedangkan kalian tidak. Padahal, nilai amal-amal seorang hamba ditentukan di akhirnya.

Perbanyaklah berdzikir kapada Allah dengan membaca tahlil,tasbih, doa-doa, istighfar, shalawat kepada nabi SAW. Selalu ingatlah akan datangnya kematian disertai sadar diri bahwa amal perbuatan kalian masih sedikit. Kembalikan hak-hak orang lain yang pernah kalian ambil secara dhalim terutama yang berupa harta benda. Karena kalian akan merasakan penyesalan yang tiada tara apabila meninggal dunia disertai tanggungan tersebut.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...