Kamis, Agustus 12, 2010

Azab Bagi Wanita Pendusta (Pembohong)


Saudara dan saudari kaum muslimin dan muslimat, Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis. Beliau menjawab, "Pada malam aku di-isra'-kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka," kata Nabi.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu? Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang 'mengotori' tempat tidurnya. Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas. Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya. Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.

FORUM PENGAJIAN KANTOR, Pengajian-Kantor-subscribe@yahoogroups.com

Rabu, Agustus 11, 2010

KEUTAMAAN DAN PAHALA SHOLAT TARAWIH


Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beliau bersabda:

1. Pada Malam Pertama Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya(seperti bayi Lahir yang tidak mempunyai dosa).
2. Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya(yang masih hidup maupun telah meninggal), jika keduanya mukmin.
3. Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah 'Arsy: "Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat."
4. Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
5. Pada malam kelima, Allah Ta'ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
6. Pada malam keenam, Allah Ta'ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
7. Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir'aun dan Haman.
8. Pada malam kedelapan, Allah Ta'ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahin as
9. Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta'ala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
10. Pada Malam kesepuluh, Allah Ta'ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
11. Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
12. Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
13. Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
14. Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
15. Pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
16. Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
17. Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
18. Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, "Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu."
19. Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
20. Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
21. Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
22. Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
23. Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
24. Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
25. Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta'ala menghapuskan darinya azab kubur.
26. Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
27. Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
28. Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
29. Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
30. Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : "Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku."

Demikianlah, keutamaan shalat tarawih yang disebutkan oleh Rasulullah SAW.

Mudah- mudahan Kita bisa Full dalam menjalankan Shalat Tarawihnya ....
Dan Pahala yang telah di sebutkan bisa memotivasi kita untuk Menjalankan shalat Tarawih...

Senin, Agustus 09, 2010

MARHABAN YAA RAMADHAN.......


Sebentar lagi ramadhan tiba, aku menanti kedatanganmu ya ... ramadhan ....

Rasulullah SAW dan para sahabat, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kalimat:
Rasulullah, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti jejak risalah Islamiyah sampai akhir zaman, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh suka cita, dan menangis saat ditinggalkan bulan Ramadhan.
Karena keistimewaannya, inilah bulan yang selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia.

Firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah (2) ayat 183 -187 :


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"



(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan {114}, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.



(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.



Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.



Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka, Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Pada bulan ini seluruh umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Pada bulan ini, Al−Qur'an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dengan yang batil, diturunkan untuk seluruh umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan pelipatgandaan ganjarannya. Pada bulan ini, rahmat dan ampunan Allah dibuka seluas−luasnya, dan pintu neraka ditutup rapat−rapat.
Sebelas bulan yang lalu, kita menjalani kehidupan yang hingar bingar. Kini tiba saatnya untuk kembali merenungi hakikat keberadaan kita di dunia, dengan memugar kembali potensi iman di dada melalui peningkatan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dengan ibadah shaum Ramadhan, umat Islam disadarkan kembali mengenai hakikat Ihsan, yakni menyembah Allah seakan−akan kita melihat−Nya, dan sesungguhnya memang Allah melihat kita.
Jika saja, seluruh umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, mampu melestarikan sikap mental menghadirkan Allah pada segenap aspek hidup dan kehidupannya, pastilah bangsa ini tidak perlu mengalami krisis multidimesional berkepanjangan seperti yang kita alami sekarang.
Dengan seruan menegakkan shalat berjama'ah, qiyamullail, tadarus Al−Qur'an, memperbanyak shadaqah, dan menunaikan zakat fitrah sebagai bagian integral dari amaliahnya, Ramadhan tidak hanya membina dan mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga mendesak umat Islam untuk mewujudkan kesalehan sosial.
Melalui bulan Ramadhan, umat Islam disegarkan kembali komitmennya pada ajaran sejati Islam sebagai pengemban missi rahmatan lil'alamin.
Oleh karena itu, Ramadhan sesungguhnya sarana awal untuk mengukuhkan kembali jati diri Muslim, memasuki hari−hari panjang pada sebelas bulan sesudah Ramadhan. Hanya mereka yang mampu melestarikan dan mengembangkan seluruh gemblengan selama Ramadhan pada sebelas bulan sesudah bulan suci inilah, yang berhak meraih predikat muttaqin, seperti digambarkan dalam Q.S.Al−Baqarah ayat 183: "Wahai orang−orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang−orang yang bertaqwa."
Sangat logis sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa siapapun yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, semata−mata berdasarkan keimanan dan mengharap ridha Allah (iimaanan wahtisaaban), akan diampuni seluruh dosa−dosanya yang telah lalu.
Hanya mereka yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan secara demikian sajalah, yang kelak akan kembali ke fitrah sejati kemanusiaannya ('Idul fitri) yang hanif: selalu memihak kepada kebaikan, kebenaran, keadilan, dan kejujuran.
Tentu tidak mudah untuk meraih predikat seperti di atas. Bahkan, bukan tidak mungkin kita terkena sabda Rasul yang lain: "Betapa banyak mereka yang melaksanakan puasa, tidak memperoleh ganjaran apa−apa, kecuali lapar dan dahaga."
Hal tersebut antara lain karena pada hakikatnya, seperti digambarkan dalam Q.S. Al−Hijr dan At−Tiin, manusia adalah muhajir (pengembara) di antara kebaikan dan keburukan.
Marilah kita manfaatkan dengan sungguh−sungguh momentum bulan Ramadhan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas keimanan umat Islam Indonesia yang dibuktikan dengan meningkatnya kualitas kesalehan sosial, sehingga makin menumbuhsuburkan misi utama ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Minggu, Agustus 08, 2010

Ambil Jalan Tengah!


Wasiat Habib Ali bin Hasan Alatas

Kalam-kalam seorang “arif billah” selalu menyejukkan dan mampu mengobati hati. Apalagi kalau kalam itu berasal dari seorang “quthb”, yaitu wali yang memperoleh tempat istimewa disisi-Nya. Tak ayal lagi, kalamnya ibarat cahaya yang menerangi lorong hati yang tergelap sekalipun. Berikut salah satu wasiat seorang “quthb” yang meninggal pada tahun 1172 Hijriyah di Hadramaut, Yaman, Habib Ali bin Hasan Alatas,

‘Sesungguhnya dunia ini bersifat fana dan kita hidup di dalamnya tidak untuk selamanya. Coba renungkan semua perbuatan yang kita kerjakan kemarin, pagi tadi atau bahkan yang barusan, yang baik dan yang buruk. Bukankah kenikmatan perbuatan tersebut telah berlalu, dan yang pasti akibat dari perbuatan tersebut akan kita tanggung. Apabila baik, kita akan mendapatkan pahala. Namun apabila jelek, kita pasti menghadapi hisab dan siksa.

Hindarilah empat perbuatan yang merupakan perilaku syetan.

Pertama, riya’, yaitu amal yang dikerjakan dengan mengharapkan sesuatu dari manusia. Perbuatan ini dikategorikan syirik sesuai kesepakatan ulama. Alangkah bodohnya diri kita apabila menyembah seseorang yang pada hakikatnya tidak dapat memberikan manfaat kepada kita. Dan seumpama perbuatan itu diketahui olehnya, maka harga diri kita jatuh di matanya.

Kedua, sombong. Sikap ini dapat kita hilangkan dalam diri kita dengan selalu koreksi diri dan menyadari bahwa kita diciptakan dari setetes air yang menjijikkan. Kita hidup dengan membawa kotoran-kotoran di dalam perut kita dan pada akhirnya kita akan menjadi bangkai yang berbau tak sedap.

Ketiga dan keempat adalah ujub (bangga diri) dan hasud (dengki). Keduanya merupakan karakteristik dasar seorang iblis dan pengikut-pengikutnya. Ketika ia mengetahui penciptaan Adam AS dari tanah ia merasa bangga diri seraya berkata, “Aku lebih baik dari dia.” Kemudian setelah ia mengetahui keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada Adam as, ia menjadi dengki dan berakhir dengan diusirnya ia dari rahmat Allah SWT. Sedangkan Adam as menjadi salah satu makhluk pilihan-Nya. Maka, janganlah kalian dengki kepada orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah. Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan kepada orang yang ia kehendaki.

Apabila kalian melihat seseorang mendapatkan “futuh” (dibuka jalannya oleh Allah) dalam ilmu, ibadah, ma’rifat, kedudukan atau harta, maka sebagai insan yang beriman, kalian hendaknya turut bahagia atas keutamaan Allah yang dilimpahkan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda,-
َلايُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا ُيِحبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya seperti ia mencintai apa yang ada pada dirinya.”

Ketahuilah, sesungguhnya rasa benci kalian atas nikmat yang dikaruniakan kepada saudara kalian menunjukkan itikad jelek kalian yang seolah-olah ingin menghalang-halangi nikmat Allah kepadanya. Dan itu sangat mustahil.

Apabila diri kalian mendengar atau mengetahui keutamaan salah satu saudara kalian, maka sebarkan keutamaannya kepada khalayak dan pujilah ia sesuai kapasitasnya walaupun sebenarnya ia adalah orang yang selama ini memusuhi kalian. Sesungguhnya pujian seseorang kepada saudaranya adalah pertanda bahwa ia adalah orang yang berakal sempurna. Namun apabila kalian mengetahui kekurangan saudara kalian, maka jangan pernah menyebarkannya kepada siapapun. Karena salah satu dari sifat ketuhanan adalah memperlihatkan hal-hal yang indah dan menutupi hal-hal yang buruk.

Jagalah rahasia-rahasia kalian dengan baik terutama rahasia yang akan membahayakan jiwa atau harta kalian jika diketahui orang. Karena sesungguhnya orang-orang awam cenderung suka menyebarkan suatu rahasia, terutama para wanita. Dan diantara rahasia-rahasia yang perlu untuk senantiasa disimpan adalah kefakiran, permusuhan, perbuatan taat dan safar (perjalanan jauh) kecuali jika darurat.

Janganlah pernah berprasangka buruk kepada siapa pun, atau curiga tanpa dasar, karena perbuatan itu termasuk dosa besar. Allah berfirman,-

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah SAW bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena itu adalah ucapan yang paling dusta.” Salah seorang ulama dari golongan Bani Alawi pernah berkata, “Sesungguhnya karakter yang buruk akan melahirkan prasangka-prasangka yang buruk pula.”

Namun sikap waspada dan hati-hati terhadap orang yang gerak-geriknya mencurigakan diperbolehkan selama hal itu tidak keterlaluan. Karena para salaf bersikap demikian. Amirul Mukminin, Umar bin Alkhattab berkata, “Aku bukan termasuk golongan penipu, namun aku takkan tertipu oleh seorang penipu.”

Janganlah menyimpan dendam kesumat atau sikap permusuhan kepada siapapun dalam hati. Bermurahlah dalam memberikan maaf. Imam Syafii ra berkata, “Barang siapa dibuat marah oleh seseorang namun tidak marah, berarti ia adalah himar (keledai). Dan barang siapa dimintai maaf namun tidak memaafkan, berarti ia adalah syetan.” Beliau juga mengungkapkan, “Terlalu bebas dalam bergaul dengan masyarakat akan mendatangkan pengaruh yang jelek, namun terlalu menutup diri dari masyarakat akan memunculkan kebencian dan sikap permusuhan dari mereka. Maka, ambillah jalan tengah!”

Jagalah mulut kalian dari perkataan bohong, karena Allah dan Rasul-Nya melaknat orang yang suka berbohong. Seorang pembohong takkan pernah dipercaya orang, ia dipandang hina di tengah-tengah masyarakat, semua perkataannya dianggap dusta. Maka, hindarilah segala macam bentuk kebohongan. Jangan pula menyampaikan kabar-kabar yang datang dari seorang pembohong. Karena kebohongan itu akan dianggap berasal dari kalian dan kalian yang akan terkena getahnya.

Maka, tidak banyak bicara adalah solusi terbaik untuk keselamatan diri. Nabi Isa as bersabda, “Jika bicara itu ibarat perak, maka diam itu ibarat emas.” Abubakar Asshiddiq ra, sahabat terbaik nabi, selalu meletakkan kerikil di mulutnya agar tidak banyak bicara. Ia mengungkapkan, “Ini (seraya menunjuk mulutnya) yang menyampaikanku ke berbagai tempat (bahaya).” Suatu ketika seorang sahabat berkata kepada nabi SAW, “Si Fulan telah meninggal dalam keadaan syahid.” “bagaimana kamu tahu!” jawab Nabi. “Barangkali ia pernah mengatakan sesuatu yang tak perlu, atau bakhil terhadap harta yang tak bisa membuatnya kaya.” Lanjut beliau.

Walhasil, inti dari keseluruhan adab bermasyarakat yang harus kalian pegang teguh adalah meninggalkan perbuatan yang pasti kalian benci apabila dilakukan orang lain terhadap kalian dan mengerjakan perbuatan yang pasti kalian senangi apabila dilakukan orang lain terhadap kalian. Sibukkan diri kalian dengan mengoreksi kekurangan-kekurangan diri sendiri daripada mengoreksi kesalahan orang lain.

Segeralah bertobat kepada Allah atas segala dosa-dosamu. Berprasangka baiklah kepada Allah disertai harapan kalian akan dikaruniai akhir yang baik (husnul khatimah). Apabila kalian melihat seseorang berbuat maksiat atau menghadiri majelis yang tidak baik, maka jangan mencelanya, karena kalian tak pernah tahu apakah suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang soleh sedang kalian tidak, atau ia akan mati dalam keadaan baik, sedangkan kalian tidak. Padahal, nilai amal-amal seorang hamba ditentukan di akhirnya.

Perbanyaklah berdzikir kapada Allah dengan membaca tahlil,tasbih, doa-doa, istighfar, shalawat kepada nabi SAW. Selalu ingatlah akan datangnya kematian disertai sadar diri bahwa amal perbuatan kalian masih sedikit. Kembalikan hak-hak orang lain yang pernah kalian ambil secara dhalim terutama yang berupa harta benda. Karena kalian akan merasakan penyesalan yang tiada tara apabila meninggal dunia disertai tanggungan tersebut.’

Kehancuran Kaum Tsamud


Beberapa waktu lalu saya sudah posting tentang tanda-tanda kehancuran kaum 'Aad. Suatu kaum yang dimusnahkan Allah SWT karena mereka ingkar dan tidak mensyukuri nikmat yang telah mereka terima. Kaum 'Aad dibinasakan oleh Allah dengan angin topan yang sangat kencang, sehingga mengakibatkan manusia yang ingkar bergelimpangan, rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi runtuh berserakan, dan binatang-binatang ternak diterbangkan angin topan yang dahsyat itu. Akhirnya negeri itu kosong dan tandus.

Setelah negeri itu kosong dan punah akhirnya Allah SWT mengutus bangsa lain untuk menghuni negeri itu. Bangsa itu yang dalam Al-Quran disebut kaum Tsamud.


Al-Quran tidak menentukan tempat tinggal kaum Tsamud, tetapi merujuk firman Allah ini jelas menunjukkan:
“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”.(Al-Fatir: 9)

Jadi tempat tinggal mereka adalah di daerah pegunungan batu. Yang dimaksud lembah oleh ayat ini ialah lembah Al-Qura, tempat yang pernah ditinggali oleh kaum 'Aad. Di lembah inilah mereka tinggal. Kebanyakan riwayat menyebutkan bahawa desa Al-Hajr sebagai perkampungan kaum Tsamud. Mereka menyebutkan bahawa di sana ada sebuah sumur yang dinamakan sumur Tsamud. Rasulullah SAW pernah mendatangi sumur itu pada waktu perang Tabuk, dan melarang sahabat-sahabatnya meminum air dan memasuki rumah-rumah di kampung itu.

Kehidupan kaum Tsamud ini seperti kehidupan kaum 'Aad dahulu. Mereka membuat kerusakan dan kesombongan, mempamerkan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka mengira bahwa harta kekayaan yang selama ini mereka pegang dan rasakan adalah untuk selama-lamanya, kesenangan dan kebahagiaan hidup mereka akan tetap selamanya. Lalu mereka berbuat semaunya, mengikuti hawa nafsunya yang angkara murka, bahkan hingga batu-batu yang tidak berharga mereka gunakan sebagai pemujaan dan penyembahan mereka

Allah SWT mengutus Nabi Saleh AS kepada Kaum Tsamud untuk menyeru mereka beribadah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala-berhala. Seruan Nabi Saleh AS kepada mereka: “Hai kaumku, beribadahlah hanya kepada Allah semata. Jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Dia yang menciptakan kamu dari tanah, Dialah yang menjadikan kamu dapat membangun dengan menyediakan alat-alat pembangunan.
Maka wajarlah kalian harus memohon ampun kepada-Nya atas perbuatan dosa yang telah kalian lakukan, mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa, mengampuni dosa orang yang bertaubat, jika ia benar-benar beriman dan ikhlas dalam berdoa.”
Kaum Tsamud mendustakan Nabi yang diutus Allah, menolak seruannya untuk beribadah kepada Allah, bertakwa dan meng-Esakan-Nya. Padahal ia Rasul yang dapat dipercaya dan tak mengharapkan upah dalam menyampaikan ajarannya.

Kebiasaan kabilah Tsamud bergelimang dalam kemewahan material antara lain dalam masalah makanan, minuman dan tempat tinggal dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Sehingga mereka ingkar terhadap Nabinya berkata menasihati mereka: “Apakah kalian mengira Allah akan membiarkan kalian bersenang-senang dengan kenikmatan itu. Apakah kalian mengira dapat melindungi diri kalian dari azab Allah, sehingga kalian berfoya-foya sesuka hati dengan kebun-kebun, mata air, pertanian dengan buah kurmanya yang manis dan masak.

Kalian pahat bagian-bagian gunung untuk dijadikan tempat tinggal dan rumah-rumah yang nyaman menyenangkan. Kemudian kalian tidak mau mensyukuri nikmat Allah yang banyak ini. Bertakwalah kepada Allah, taatilah nasihat-nasihatku. Aku menyeru kalian kejalan Allah, janganlah kamu turutkan perbuatan-perbuatan orang yang melampaui batas. Mereka melampui batas (mempengaruhi kalian) dalam kekufuran dan kemaksiatan. Mereka membabi-buta membuat kemaksiatan di dunia, dan tidak mengetahui jalan yang benar.”

Seterusnya Nabi Saleh AS berkata kepada mereka: “Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu bangun istana-istana ditanah yang datar dan kamu pahat gunung untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu melampaui batas di muka bumi membuat kerusakan”.

Kaum Tsamud tidak mau percaya terhadap nasihat-nasihat Nabi Saleh. Bahkan sebaliknya, mereka menuduh bahawa Saleh terkena sihir yang mengganggu pikirannya. Sehingga dengan pengaruh sihir itu, ia mengaku sebagai utusan Allah.

Pada suatu hari mereka (kaum Tsamud) datang menemui Nabi Saleh AS untuk minta bukti-bukti kebenaran atas kenabiannya. Mereka berkata, "Kalau engkau boleh mendatangkan bukti mukjizat (perkara-perkara luar biasa), maka engkau benar-benar seorang nabi, kalau tidak berarti engkau seorang pembohong."
Mendengar kata-kata dan pendirian mereka yang sedemikian itu, tidak ada yang dapat diperbuat oleh Nabi Saleh kepada mereka kecuali hanya berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Ya Tuhanku, kaumku telah mendustakan aku, dan hanya sebagian saja dari mereka yang beriman kepadaku, dan kali ini mereka minta mukjizat atas kenabianku. Untuk mengatasi hal yang sedemikian itu sudilah kiranya Engkau memberikan mukjizat yang dikehendaki mereka itu. Mudah-mudahan dengan mukjizat itu mereka beriman kepada seruan yang kusampaikan kepada mereka."

Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Saleh, lalu Allah SWT berfirman kepadanya: "Pergilah engkau hai Saleh untuk menemui kaummu, dan katakanlah kepada mereka agar berkumpul dilapangan dikaki gunung itu, untuk dapat melihat mukjizat yang mereka inginkan. Dari gunung itu nanti akan muncul seekor unta betina yang luar biasa cantiknya, besar dan gemuk, yang tidak pernah mereka lihat sebelum ini. Susu unta itu selalu penuh dengan air susu, walaupun setiap detik dan setiap jam air susu itu diperas.
Setiap orang dibolehkan untuk mengambil air susunya, dengan syarat unta itu harus dibiarkan dengan sebebas-bebasnya, tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Dan juga unta itu harus dibiarkan meminum air yang ada dalam sumur itu bergantian dengan penduduk. Artinya hari ini sumur itu digunakan untuk meminumkan unta itu, dan hari berikutnya digunakan untuk penduduk. Dan begitulah seterusnya. Dan sewaktu giliran unta, tak seorang pun dari penduduk itu yang dibolehkan mengambil air sumur itu. Begitu pula pada hari giliran penduduk, unta itu tidak akan meminum sedikit pun."

Setelah wahyu itu disampaikan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya, maka mereka berkumpul menunggu-nunggu unta yang dimaksudkan itu. Tidak lama kemudian dari gunung itu muncullah seekor unta yang cantik, gemuk dan penuh dengan air susu, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Saleh kepada mereka.
Unta itu terus menuju ke sumur dan meminum semua air yang ada dalam sumur. Melihat unta yang gemuk itu, semua penduduk menyediakan nampan untuk tempat susu, lalu mengambil air susu dari unta itu.

Demikianlah setiap hari unta itu mengeluarkan air susu, dan tidak henti-hentinya penduduk disitu memerasnya. Dan pada suatu hari, mereka tidak mendapatkan air sama sekali dalam sumur itu, maka sebagai gantinya mereka memeras susu unta itu.
Begitulah dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, orang yang beriman bertambah kuat imannya, sedangkan orang-orang yang ingkar bukan menjadi beriman padahal bukti-bukti dan mukjizat yang mereka minta dahulu telah mereka saksikan, bahkan mereka bertambah dengki kepada Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman.

Kaum Tsamud membunuh Unta

Untuk mewujudkan kedengkian dan iri hati yang terpendam dalam hati kaum Tsamud yang ingkar, maka mereka merencanakan untuk membunuh unta mukjizat dengan tujuan supaya orang-orang yang beriman semakin berkurang bahkan menghindar dari seruan Nabi Saleh. Karena seruan dan ajaran Saleh adalah tidak sesuai dengan ajaran nenek moyang mereka yang menyembah patung dan berhala-berhala.

Untuk membunuh unta mukjizat Nabi Saleh itu, para pemimpin kaum Tsamud yang ingkar memberikan motivasi kepada laki-laki untuk membunuh unta itu. Motivasi itu adalah dengan menawarkan perempuan-perempuan cantik. Perempuan-perempuan cantik itu akan diserahkan kepada laki-laki yang mau membunuh unta tersebut.
Akhirnya seorang perempuan cantik yang bernama Shaduq binti Mahya akan menyerahkan kehormatannya dengan sepuas-puasnya kepada seorang laki-laki yang bernama Masdak Ibnu Hajar, dengan syarat pemuda itu dapat membunuh unta tersebut. Dan juga seorang perempuan tua yang derhaka sanggup menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada seorang lelaki yang bernama Qudar Ibnu Salif.

Kedua-dua pemuda itu yang sudah tergoda dengan gadis-gadis cantik, berangkat menuju ke tempat unta itu berada. Dengan diam-diam kedua pemuda itu mendekati unta itu dekat sumur dan menusuknya dengan pedang yang sangat tajam, hingga akhirnya terburailah susu unta itu, dan tidak lama kemudian unta itu pun mati. Kedua pemuda itu dengan perasaan puas dan gembira menemui pemimpin-pemimpin kaumnya atas kematian unta mukjizat tersebut sambil menagih janji gadis-gadis cantik yang akan mereka nikmati.

Mereka mendustakan firman Allah melalui Nabi Saleh yang telah memberi ancaman kepada siapa saja yang berani membunuh unta itu, tapi akhirnya mereka membunuh unta itu dengan mendustakan mukjizat yang telah diperlihatkan kepada mereka.
Kemudian mereka menemui Nabi Saleh dan berkata: "Hai Saleh, datangkanlah siksa yang telah engkau janjikan itu, seandainya engkau benar-benar utusan Allah. Buktinya unta yang merupakan mukjizat itu sudah kami bunuh, dan mana janji bahwa akan didatangkan azab itu."

Nabi Saleh berkata: "Kamu benar-benar telah berbuat dosa. Sekarang kamu boleh bersenang-senang dan bergembira tiga hari saja atas kematian unta itu. Sesudah tiga hari yang dijanjikan Tuhan akan datang, dan bukanlah ini perjanjian yang bohong."

Dalam waktu tiga hari masih diberikan kesempatan kepada mereka oleh Nabi Saleh dengan harapan mudah-mudahan mereka sadar dan bertaubat, beriman kepada Allah dan utusan-Nya. Tetapi oleh kaum yang durhaka dan celaka itu, dianggap sebagai tanda kelemahan.

Belum lagi tiga hari, mereka datang lagi kepada Nabi Saleh memaki-maki lagi dengan bertanya: "Percepatlah datangnya azab yang engkau janjikan itu".
Dan banyak lagi cara-cara mereka dalam menyakiti dan mendustakan Nabi Saleh. Nabi Saleh hanya berkata: "Wahai kaumku, kenapa kamu minta segera datangnya siksa, bukan kebaikan? Kenapa kamu tidak minta ampun kepada Allah, mudah-mudahan kamu diberinya pengampunan?"

Sehari sebelum janji itu habis, karena mereka merasa ragu dan takut akan janji Allah itu, maka mereka mengadakan pertemuan rahasia untuk membunuh Nabi Saleh pada malam itu juga. Karena menurut sangkaan mereka bahwa dengan terbunuhnya Nabi Saleh, azab itu tidak akan datang. Namun Allah melindungi hamba-Nya yang benar, Nabi Saleh dijauhkan dari pembunuhan pada malam itu juga.

Pada keesokan harinya tepat sekali apa yang dijanjikan oleh Nabi Saleh itu, maka azab yang dijanjikan Tuhan itu diturunkan yang berupa suara petir yang sangat dahsyat. Gemuruh petir yang sangat kuat itu dapat menyebabkan suara yang mengguntur dan dapat menghancurkan rumah dan bangunan-bangunan mereka sebagai tempat tinggal, bukit-bukit yang dipergunakan sebagai benteng, harta kekayaan mereka porak-peranda disambar petir dan tiupan angin. Hanya Nabi Sall\eh dan pengikutnya yang beriman terselamat dari azab tersebut.
Kehancuran kaum Tsamud adalah karena sambaran petir yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri.

“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”.
(Al-Haqqah: 5)
Yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara menggelegar dan merusakkan indera pendengaran.
Petir itu menimbulkan goncangan yang hebat, bagaikan terjadinya gempa yang memporak-perandakan bumi.


Sumber : Qisasul Anbiya' - Kisah Para Nabi & Rasul
Pengarang: Ibnu Katshir
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...